Miris ! Kerja 15 Tahun, Pria Ini Tak Dapat Uang Pensiun,tapi Balasan yang Didapat Mengejutkan!



Kisah pria yang berdedikasi pada pekerjaannya ini jadi viral.

Setiap orang punya cara kerja yang berbeda-beda.

Kebanyakan orang bekerja keras agar bisa punya kehidupan yang terjamin di hari tua nanti.

Namun, kisah berbeda dialami pria asal Singapura ini.

Pria 64 tahun ini viral karena mengalami ketidakadilan dalam bekerja.
Dilansir Lianhe Zoabao via Worldofbuzz, pria bernama Lee ini bekerja sebagai supir untuk 2 perusahaan logistik.

Pria 64 tahun ini sudah berkerja sejak tahun 2000.

Lee bekerja selama 11 tahun di sebuah perusahaan dan 4 tahun di perusahaan lainnya.Lee sudah bekerja selama 15 tahun (ilustrasi) (zaobao.com.sg)

Meski sudah bekerja lebih dari satu dekade, Lee diperlakukan seperti pegawai kontrak.

Bahkan ia tidak diberi fasilitas pegawai pada umumnya seperti cuti tahunan dan cuti sakit.

Tak sampai di situ saja, perusahaan Lee juga menolak membayar Central Provident Fund (CPF), yang serupa dengan Employee Provident Fund (EPF) atau kumpulan uang simpanan pekerja.

Ternyata, mereka berusaha mengeksploitasi Lee dengan mengatakan bahwa dia memberikan kontrak untuk layanan, bukannya kontrak pelayanan.

Sekilas dua hal tersebut terdengar sama, tapi ternyata sangat berbeda.

Lee dianggap sebagai seorang kontraktor yang menyediakan layanan untuk klien, bukannya pekerja pada umumnya.


Itulah kenapa Hukum Pekerja tak berlaku untuknya.

Nasib miris belum berakhir, ternyata Lee terluka saat sedang bekerja.

Dia juga baru tahu dari teman-temannya bahwa perusahaannya ternyata melanggar hukum.

Ia diminta untuk membuat aduan pada Kementrian Tenaga Kerja.Lee diperlakukan tidak adil oleh perusahaannya (ilustrasi) (backstage.tnp.sg)

Awalnya, Lee merasa ragu dengan kasus tersebut.

Tapi, akhirnya, ia menghubungi kementrian tersebut untuk minta klarifikasi.

Untungnya, usaha Lee ini membuahkan hasil.

Melalui kementrian yang disebut Ministy of Manpower (MOM) ini mereka berhasil meminta dua perusahaan Lee untuk membayar.

Perusahaan tersebut harus memberikan uang kompensasi senilah SGD$130 ribu (Rp1,3 miliar).

Lee mengaku bersyukur karena kasusnya bisa diselesaikan.


"Aku berterima kasih pada MOM karen telah membantuku.

Mereka mengatakan bahwa aku adalah seorang pegawai dan bukan pekerja kontrak seperti yang dikatakan perusahaanku sebelumnya.

Perusahaan-perusahaan tempat aku bekerja memberiku transportasi dan seragam yang akan aku pakai, itu berarti aku pegawai resmi."

Melalui pengalamannya ini, Lee ingin mendorong para pekerja lain yang merasa diperlakukan tidak adil oleh perusahaan untuk melapor ke kementrian tenaga kerja.