Mantan Sekda Palembang Diperiksa KPK Terkait Bawa 2 Miliar, Ucok: Saya Diminta Tolong Ambilkan Duit. Bagaimana pendapat kalian guys ?



Mantan Sekda Kota Palembang Ir H Ucok Hidayat MT menyatakan tidak sampai 30 menit dirinya diambil keterangan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus suap Pilkada Kota Palembang 2013 di Polresta Palembang, Rabu (24/1).

"Dak sampe setengah jam tadi saya dimintai keterangan," ungkap Ucok yang kini menjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Sumsel.

Dia dimintai keterangan terkait kasus dugaan suap Pilkada Kota Palembang 2013 yang melibatkan Walikota saat itu almarhum H Romi Herton SH MHum dan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Muchtar.

"Masalah lama kasus sengketa Pilkada 2013. Tetapi sekarang yang menjadi TSK-nya adalah Muchtar Effendi (orang yang disebut kepercayaan Akil Muchtar). Tentang gratifikasi dan TPPU. Mau cari hubungan antara aku dengan Muchtar Effendi."

"Saya bilang, saya nggak tahu dan nggak kenal. Di situ Muchtar Effendi kasusnya uang itu dari Romi. Muchtar Effendi ke Akil."

"Karena memang saya nggak kenal dan tidak pernah berhubungan, ya saya jawab tidak pernah. Dan tadi saya diambil sumpah," beber Ucok yang juga pernah menjabat Kadis Tata Kota Palembang.

Selain itu Ucok mengaku diajak ngobrol dan dan dipersilakan kalau ada tambahan yang bisa dijelaskan.

"Saya waktu itu menjabat Sekda Kota Palembang diminta tolong ambilkan duit. Mau dibuang kemana duit itu, saya tidak tahu dan itu sudah semua saya sampaikan di pengadilan saat diminta menjadi saksi," kata Ucok.

Ucok sedikit menyayangkan pemberitaan dirinya dikait-kaitkan dengan jabatannya saat ini sebagai Manajer Tim sepakbola kebanggan wong kito Sriwijaya Football Club.

"Tolong jangan aku dikait-kaitkan dengan SFC. Kasihan tim yang sudah solid ini. Tidak ada hubungan saya diambil keterangan ini dengan SFC," tegas Ucok.

Peran Ucok

Penelusuran Tribun, peran Ucok beberapa kali diungkap dalam kasus suap sengketa Pilkada Kota Palembang.

Ucok sempat bersaksi dalam persidangan mantan Ketua MK Akil Mochtar yang ketika itu menyandang status terdakwa kasus dugaan suap sengketa Pilkada di MK dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).


Dalam persidangan tersebut, terungkap Ucok membawa uang sebanyak Rp 2 miliar dari Palembang ke Jakarta. Dia sempat diperiksa petugas Bandara Sultan Badaruddin II Palembang.

Ucok akhirnya lolos dari pemeriksaan lantaran mengklaim uang yang dibawanya untuk membeli sejumlah alat berat di Jakarta.

Saksi Direktur PT Peraga Lambang Sejahtera Muhamad Syarif Abu Bakar mengatakan, Walikota nonaktif Palembang (alm) Romi Herton menjual SPBU milik Romi di Palembang kepadanya seharga Rp 15 miliar.

Menurut dia, Romi mendatanginya untuk menawarkan SPBU tak lama setelah kalah dalam Pemilihan Kepala Daerah Palembang tahun 2013.

Mamad menyatakan, Romi menjual SPBU karena mengaku butuh uang untuk membayar utang. Romi lantas menunjuk pelaksana tugas (Plt) Sekda Kota Palembang Ucok Hidayat untuk mengurus pembayaran.

Sebagai uang muka, Romi sepakat untuk menerima Rp2 miliar sebagai uang muka.

Namun beberapa hari kemudian, Romi mendesak Mamad untuk membayarnya utuh dalam waktu dekat.

"Saya samppaikan saya tidak ada uang Rp15 miliar saat itu, saya hanya ada uang Rp11 miliar," kata Mamad.

Akhirnya Romi sepakat dengan jumlah uang tersebut dan meminta Mamad menyerahkannya dalam bentuk tunai.

Mamad mengatakan, uang tersebut disimpan di dalam delapan koper, kemudian dibawa ke Jakarta menggunakan pesawat.


Dalam surat dakwaan Akil Mochtar terungkap, Romi pernah menyampaikan niatan untuk mengajukan gugatan sengketa Pilkada Kota Palembang tahun 2013 kepada orang dekat Akil bernama Muhtar Effendi. Muhtar lantas menyampaikan permintaan itu kepada Akil.

Pascagugatan didaftarkan ke MK pada April 2013, Akil menelepon Muhtar untuk menyampaikan kepada Romi agar segera menyiapkan uang Rp20 miliar jika mau sengketanya dikabulkan MK.

Permintaan ini kemudian disanggupi oleh Romi.

Romi kemudian memberikan uang secara bertahap melalui istrinya, Masyito.

Masyito kemudian menyerahkan uang sebesar Rp12 miliar dan Rp3 miliar dalam bentuk mata uang dollar Amerika Serikat.

Uang diserahkan untuk Akil melalui Muhtar. Sisanya sebesar Rp5 miliar diberikan usai amar putusan dibacakan.

Sedangkan dalam amar putusan, MK membatalkan Berita Acara Rekapitulasi hasil penghitungan suara Pilkada Kota Palembang 13 April 2013 serta membatalkan keputusan KPU Kota Palembang tentang penetapan rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara Pilkada Kota Palembang di 5 TPS.

Dengan itu, MK menetapkan Romi sebagai Wali Kota Palembang.

Pasangan nomor urut 2 ini akhirnya memenangi 316.915 suara dan menang tipis dari pesaingnya nomor urut 3, Sarimuda-Nelly Rasdania dengan jumlah 316.923 suara. Sebelumnya Sarimuda-Nelly menang 8 suara.

Romi pun memenuhi janji memberikan sisa Rp5 miliar kepada Akil melalui Muhtar.


Kemudian pada 20 Mei 2013, Muhtar menyetor uang sebesar Rp3,8 miliar lebih kepada Akil melalui transfer ke rekening giro atas nama CV Ratu Samagat di BNI Cabang Pontianak dan uang sebesar Rp7,5 miliar tunai diberikan langsung. Sisa Rp8,5 miliar dikelola Muhtar atas izin Akil.

Dalam kasus ini, Romi dan Masyito divonis bersalah dengan hukuman 6 tahun dan 4 tahun penjara. Pada persidangan banding, vonis diperberat jadi 7 dan 5 tahun penjara.

Akil Mochtar divonis penjara seumur hidup. Sementara Muchtar Effendi divonis 5 tahun penjara.