Ya Allah Tega, Sadis! Nenek Ini Dikurung Selama 2 Tahun, saat Dibebaskan Kondisinya Bikin Nangis



Fenomena anak durhaka dewasa ini semakin menjadi-jadi. 

Motifnya pun bermacam-macam, bahkan sebagian tergolong tidak manusiawi.

Seperti dialami seorang nenek di Palembang ini yang harus merasakan pahitnya masa tua oleh perilaku jahat orang-orang yang merupakan darah dagingnya sendiri.

R.A. Naimah (83), hanya bisa meringkuk dan tubuhnya tampak lemas ketika dievakuasi dari sebuah gudang yang tampak kumuh dan berantakan.

Warga RT 60 RW 01, Perumahan Tirta Mutiara Indah Blok 5, Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami, kota Palembang ini dikurung selama 2 tahun oleh sepasang suami istri yang tak lain merupakan keponakannya. 

Ironisnya, penderitaan Naimah baru diketahui warga sejak seminggu lalu.

Tidak tahan melihat ada seorang nenek dikurung sendirian di dalam sebuah ruangan, para tetangga pun akhirnya membebaskan Naimah.

“Berkoordinasi dengan berbagai instansi, kami berinisiatif membebaskan Naimah yang dikurung tanpa rasa manusiawi. Saat mengevakuasi Naimah, kami dibantu pihak lurah, kecamatan, Dinsos, Koramil, Puskesmas, Bhabinkamtibmas Polsek Sukarami, semuanya bantu,” terang Ketua RT 60, M. Taufik Tambuh kepada TribunSumsel.com, Selasa (28/11/2017).

Taufik menjelaskan, begitu warga membongkar gudang tempat Naimah dikurung, kondisi wanita yang diketahui belum pernah menikah tersebut sangat memprihatinkan.

Tidak ada sehelai pakaian pun menempel di tubuh Naimah.

Tubuhnya pun tampak sangat kurus, terutama tangan dan kaki yang tampak seperti tulang dibalut kulit.

“Pas Naimah kami temukan, maaf, beliau itu tidak pakai baju. Setelah diberi baju oleh warga, baru dipindah ke mobil ambulan,” ungkap Taufik.

Kondisi ruangan tempat Naimah dikurung, masih kata Taufik, sangat jauh dari kata layak.

“Ada perabot makan, kasur, tikar. Di sana sudah bau pesing, banyak kotoran, macam-macam, pokoknya berantakan sekali,” beber Taufik.

Dilanjutkannya, ketika warga berusaha mengevakuasi, kemenakan Naimah bernama Fatmawati dan suaminya Yuswan, tampak tidak terima dengan kedatangan warga.

Keduanya pun berusaha menghalangi warga maupun aparat yang memberikan pertolongan pada Naimah.

“Si Yuswan bilang, ‘mau apa kalian datang? Dia (Naimah) gila, harusnya kalian panggil psikiater. Jangan langsung dibawa begini’”, kata Taufik menirukan ucapan Yusman saat bibinya akan diberi pertolongan.

“Padahal Naimah itu tidak gila, waktu kami mau evakuasi, kami masuk rumah pakai sandal, lalu kami ditegurnya. Dia bilang harus lepas andal, artinya dia (Naimah) sadar dan tidak gila,” katanya lagi menegaskan.

Dilanjutkan Taufik, warga dan petugas tidak bergeming dengan ucapan Yuswan yang menolak warga menolong bibinya itu.

Naimah tetap dibawa ke rumah sakit karena kondisinya yang sangat lemah dan tidak berdaya.

“Si Yuswan sempat diinterogasi polisi, tapi dia melawan. Dia berkilah telah mengurung Naimah di gudang. Alasannya, dia dan istrinya selalu kasih makan (Naimah) setiap hari. Tapi entahlah,” kata Taufik.

Menurut Y, warga setempat yang juga ikut membantu membebaskan Naimah, nenek tua renta tersebut sudah dua tahun belakangan ini dikurung oleh dua keponakannya itu.


“Sudah 2 tahun lebih dikurung di situ (gudang). Awalnya dulu (Naimah) suka teriak-teriak, apalagi kalau malam mati lampu, dia panik mungkin. Semakin lama, suaranya kok tidak ada. Di situlah saya curiga dan ngadu ke Pak RT,” terang Y.

Masih kata Y, kondisi gudang tempat Naimah dikurung, tidak berdekatan dengan rumah Yuswan dan istrinya Fatmawati.

Keduanya juga jarang menengok Naimah di gudang tersebut.

“Mana ada suami-istri itu kasih makan ke bibinya. Kalaupun iya, saya yakin tidak setiap hari, itu pun ada yang pernah lihat (Naimah) dikasih nasi dalam kantong plastik. Kejam mereka itu,” ujarnya.

Menurut Y, Naimah bukan orang sembarangan. Wanita lajang tersebut terkenal memiliki harta, di antaranya empat unit rumah dan sejumlah mobil mewah yang kini dikuasai oleh keponakannya, yakni Yuswan dan Fatmawati.

Pernyataan Y juga diamini Ketua RT 60, Taufik yang mengatkan jika Yuswan memiliki beberapa unit rumah yang lokasinya berada di Palembang.

“Naimah itu hebat, orang kaya, banyak harta. Namanya saja Raden Ajeng (RA) Naimah. Tapi saat tua begini menderita dikurung keponakannya sendiri,” kata Taufik.

Sementara Yuswan dan istrinya Fatmawati belum dapat dikonfirmasi terkait hal ini. Yuswan diketahui merupakan guru di salah satu SMA Negeri di kota Palembang.

Lurah Kebun Bunga maupun Camat Sukarami yang ikut saat proses evakuasi Naimah, juga belum bersedia dikonfirmasi terkait kejadian yang menimpa salah seorang warga mereka.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Palembang, Heri Aprian ketika dikonfirmasi membenarkan adanya proses evakuasi Naimah yang melibatkan berbagai instansi dan lembaga penegak hukum pada Selasa (28/11/2017), sekitar pukul 08.30.


“Perlu diketahui bahwa yang bersangkutan tidak mengalami gangguan jiwa. Ketika dievakuasi, beliau (Naimah) gizinya kurang baik dan kondisinya memperihatinkan,” kata Heri saat didihubungi via telepon seluler.

Heri mengatakan, saat ini Naimah dirawat dan ditempatkan di tempat yang layak.

“Sebelumnya (Naimah) kita rawat di Rumah Sakit (RS) Ernaldi Bahar, Palembang. Kemudian dipindahkan ke panti jompo di Indralaya (Ogan Ilir). Untuk perawatan belaiu ini diserahkan ke Dinsos Provinsi Sumsel,” tukasnya.