Benarkan Anak yang Kepalanya Punya 2 Unyeng-unyeng itu Nakal dan Pintar? Ini Jawabannya

Tags



Anak yang punya unyeng-unyeng dua di kepala selalu sangat dikaitkan dengan sikap nakal, keras kepala dan tak mau mendengar omongan.

“Ooo.. Pantas saja unyeng-unyengnya dua!”

Jika dengar ada kakak adik atau saudara dengan jenis seperti itu mulailah terasa.

Sedihnya, bukan kita yang tentukan unyeng-unyneg anak satu atau dua.

Itu anugerah Allah untuk ibu yang beruntung.

Sebab itulah, tak boleh kita menghakimi kenakalan anak-anak berdasarkan fisik mereka, dua unyneg-unyneg, lesung pipit, bentuk keningnya.

Semua itu rahasia Yang Maha Menciptakan.

#Memang begitulah yang sudah diciptakan, tambahan lagi sangat banyak omongan dan pertanyaan yang perlu kita jawab.


Adakalanya anggota keluarga lain yang bertanya dan kita bingung mau menjawabnya.

Dilansir mediatular Menurut Dato’ Fadzilah Kamsah.

Sifat orang yang mempunyai dua unyeng-unyeng sebenarnya samgat banyak akal, ide dan sangat bijak.

Anda mempunyai anak yang mempunyai dua unyeng-unyeng di rambut?

Cerita ibu yang ada anak seperti ini, Puan Aminah Hafizah Abu Bakar boleh dijadikan panduan.

Anak Dua Pusar Benarkah Tak Bisa Diam & Pintar

Orang tua zaman dulu memang banyak pengalaman, mereka lebih lama makan asam garam kehidupan.

Melalui pengalaman itu timbullah petuah-petuah untuk panduan dalam kehidupan seharian.

Meskipun zaman berubah, petuah lama masih utuh dipercayai dan dilakukan.

Tidak hanya petuah. Orang lama juga kaya akan pengalaman observasi.

Maka selalul kita dengar orang menyebut istilah ‘kata orang-orang tua’.

Namun, tidak semua boleh dipercayai.

Ada yang terbukti mitos semata-mata. 

Sebagai umat Islam kita harus memeriksa kesahihah fakta.

Dan mengetahui hukum agama sebelum menerima bulat-bulat sesuatu kepercayaan atau amalan.

Sering kita mendengar orang berkata anak dengan dua unyneg-unyeng kepala sebagai nakal dan tak bisa diam.

Entah di mana logiknya, tetapi itulah yang kerap ditakutkan orang.

Tersentuh Hati

Saat terlihat kepala anakku unyneng-unyengnya dua, orang tua terus mengingatkan supaya bersiap sedia dengan karena anakku itu.

Ada yang menyebutnya pintar, ada juga yang melabelinya anaktak bisa diam 
Tapi juga ada yang berani melabelinya anak nakal.

Sebagai ibu baru, hati tentu tersentuh apalagi lagi anak masih merah.

Tetapi aku selalu membesarkan hati mengambil yang positif saja.

Dan membiarkan kata-kata orang berlalu seperti angin.

Saat anakku semakin membesar, aku sadari karakter dirinya yang ekstrovert dan aktif.

Dia mudah mengekspresikan emosinya.

Dia suka menyanyi dan mempunyai kepercayaan diri yang baik untuk kanak-kanak seusia empat tahun.

Tetapi memang kelakuan anak-anak banyak ragamnya, anakku juga tidak terkecuali.

Kadangkala dia menghiburkan tapi ada saatnya kelakuannya juga menyebabkan kami naik marah.

Satu hal yang tidak aku persetujui ialah meletakkan kesalahan kepada ciri fizik dua unyeng-unyengnya itu.

Apabila dia berbuat salah kita segera memarahinya.

Jika terlibat dalam perkelahian anak-anak, cepat saja kita menuding jari kepada si dua unyeng-unyeng tadi.

Terkadang tidak sempat dia membela diri, dan belum juga kita selidiki masalah sebenarnya.

Kita pantas menjustifikasikan situasi dan meletakannya sebagai yang salah.

Aku melihat perkembangan ini sebagai tidak sehat untuk pembinaannya sebagai individu yang berakhlak mulia.

Adakah kepala dengan dua unyeng-unyeng semestinya nakal? Wallahualam.

Pernahkah kita terfikir dua unyneng-unyeng di kepala ini ciri fisik, sama juga seperti lesung pipit dan tahi lalat?

Menilik Rahasia Tahi Lalat

Apakah adil memukul rata pribadi seseorang melalui bentuknya saja?

Lebih sedih jika kita mengaitkan dengan mitos tahayul yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Tanggapan seperti ini menanamkan stigma di dalam kepala individu di sekeliling anak tadi.

Orangtua misalnya terdorong memberi perlakuan tegas dan keras kepada anak ini semata-mata tidak mau ia menjadi nakal.

Setiap langkah karenah anak sentiasa dibayangi dia dua unyeng-unyeng, maka pintar atau dia nakal.

Orangtua secara tidak langsung telah meletakkan label kepada anaknya.

Apakah adil memandang sikap indvidu berdasarkan ciri fizikalnya?

Nah, tidakkah ia juga terpakai dalam situasi ini?

Anak Punya Dua Unyeng-unyeng Sama Saja Seperti Anak Lain

Ada waktunya apabila timbul rasa marah terhadap si anak, aku mengingat diri, dia sama saja seperti anak lain.

Akhlak dan adabnya dibentuk oleh aku dan suami.

Sikap dan pembawaan karakternya terbentuk oleh lingkungan sekitarnya.

Generalisasi dan kata orang tua jaman dulu tidak membantu perkembangan anak-anak.

Sebagai orangtua menjadi tanggungjawab kita mendidiknya menjadi anak yang baik seperti diidamkan oleh semua.