Mertua Menganggapnya Sebagai Pembantu, Hingga Emosi Sang Menantu Memuncak ,Lalu Terjadilah

ilustrasi

Kisah perjalanan hidup rumah tangga pasangan suami istri yang baru saja menikah. Sang Istri harus menjalani hidup dirumah dengan penuh rasa ketidaknyamanan. Disisi lain suami hanya mengikuti apa kata orang tuanya, sedangkan istri tersiksa.

Hingga akhirnya peristiwa yang tidak diinginkan pun terjadi, berikut isi kisahnya yang dikutip dari laman erabaru. Simak dan semoga menjadi pembelajaran buat pasangan suami istri lainnya.

Sejak menikah sampai sekarang, boleh dikatakan saya tidak pernah merasa santai sehari pun. Saya dan suami saya adalah anak tunggal, meski orang tua saya hanya seorang guru, dan bukan keluarga yang kaya raya.

Tapi sebelum menikah, ayah-ibu saya selalu membuat hidupku nyaman, tapi bukan berarti dimanja orangtuaku.

Karena suami saya juga anak tunggal dalam keluarganya, jadi, saya selalu menuruti kehendak mertua sejak menikah dengannya.


ilustrasi

Dilansir dari erabaru, sebelumnya saya tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga.

Tapi saya berusaha belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik setelah menikah.

Dua hari sekali saya membersihkan rumah luar dalam, saya mencucui pakaian mereka, merapikannya dan meletakkan ke kamar mereka.

Selain itu, saya juga membeli bahan makanan yang mereka suka dan memasaknya sesuai resep untuk mereka.

Suami sibuk dengan pekerjaan, dia kerap tidak berada di rumah, terkadang saat mereka ingin pergi, saya yang mengantar mereka.

Saat berganti musim dan perlu membeli baju baru, saya lebih dulu membantu mereka memilihnya, kemudian baru membeli baju sendiri dan suami.

Sampai-sampai ibu kandung saya iri, katanya sikap saya tidak pernah sebaik itu pada mereka, ayah-ibu kandungku.

Dan saya sendiri merasa, kalau saya sudah berusaha melakukan hal yang terbaik untuk mereka, tapi mereka tidak pernah merasa puas.


ilustrasi

Karena sebelumnya saya tidak pernah masak di rumah, dan meski sudah berusaha belajar memasak.

Namun, hasil masakan saya memang belum bisa sesuai dengan selera mereka.

Sehingga bapak-ibu mertua selalu mengeluh masakan saya terlalu hambarlah, itu terlalu asinlah dan sebagainya.

Tapi meski mereka memilih-milih makanan, ibu mertua tidak pernah memasak sendiri.

Terkadang saat sedang mengepel lantai rumah, mertua selalu bilang belum bersih, masih ada rambutlah, ini-itulah dan sebagainya.

Begitu juga saat mencuci pakaian, ada saja keluhan mereka.

Tapi satu hal yang benar-benar keterlaluan, saat musim dingin, saat masa fisiologis saya,

ibu mertua menyuruh saya mencuci mantelnya dengan tangan, katanya tidak bersih kalau menggunakan mesin cuci.

Sebenarnya, banyak hal-hal sepele yang masih bisa saya tahan. Belakangan saya hamil, dan bagi saya.

rasanya sangat tersiksa setiap hari mual-mual, tapi ibu mertua tetap saja tidak mau membantu pekerjaan di rumah walau sekadarnya.


ilustrasi


Justeru ia bilang harus banyak bergerak, kerja ini itu, sambil melatih otot tubuh, supaya nanti lebih muda melahirkan anak.

Adalah hal yang wajar, wanita hamil memiliki emosi yang mudah bergejolak.

Suatu ketika saat saya memasak, bapak-ibu mertua mulai mengeluh lagi mengenai masakan saya.

Saat itu emosi saya memuncak, dan seketika membanting piring berisi sayur, kemudian mengemasi barang dan pulang ke rumah orangtuaku.

Beberapa hari kemudian, suami saya ke rumah.

Saat itu saya sedang makan dengan santai, dan berkata kepadanya.

“Kamu pulang dan tanyakan sama bapak-ibumu, mereka mencari menantu atau pembantu, kalau memang mencari pembantu, kita cerai saja sekarang.

Anak ini juga saya tidak mau, saya sudah tidak tahan dengan sikap bapak-ibumu.


ilustrasi

Jika masih menginginkan menantu sepertiku, suruh mereka yang datang menjemputku.”ujarnya

Tak disangka perlawanan saya mulai berefek, keesokannya, bapak-ibu mertua datang ke rumah sambil membawa oleh-oleh.

Bagaimana pun juga mereka adalah orangtua, dan mertua saya, saya juga tidak mau kelewat batas terhadap mereka.

Sejak itu, saya masih melakukan pekerjaan rutin sebagaimana tugas seorang ibu rumah tangga.

Tapi, ibu mertua akhirnya mulai turut membantu pekerjaan sepele di rumah, dan mereka juga tidak berani cerewet lagi dan bilang masakan saya tidak enak.(*)