Tahukah Anda Budaya Membeli Sapi Dalam Sarung, Ala Minangkabau



Sahabat, kebutuhan permintaan daging, di negara-negara yang berpenduduk muslim, akan semakin meningkat menjelang hari raya Idu Adha. Hukum ekonomi terlihat jelas disini, dimana permintaan daging, misalnya daging sapi, yang tinggi akan berpengaruh terhadap mahalnya harga.


Saking tingginya permintaan, tak jarang pembeli kurang memperhatikan kualitas daging atau kondisi sapi yang masih hidup. Karena buat pembeli yang terpenting di hari Idul Adha nanti ia bisa berqurban, atau paling tidak keluarganya bisa makan rendang, hehe.

Namun cerita diatas tidak akan terjadi di Sumatera Barat. Yang terjadi bukanlah membeli kucing dalam karung, melainkan membeli sapi dalam sarung. 

Pada hari-hari pakan (pasar) berkumpul pedagang dan pembeli sapi, beserta sapinya. Jadi calon pembeli dapat mengetahui kondisi dan memilih sapi yang dia inginkan.


Membeli sapi dalam sarung memang benar-benar dilakukan sesuai bunyi kalimat tersebut, hanya saja bukan sapi yang berada dalam sarung melainkan telapak tangan antara pembeli dan penjual. Inilah



keistimewaan lainnya yang membuat pembeli bisa mendapatkan harga sapi yang miring. 

Transaksi tersembunyi meskipun berada di tengah-tengah pasar, dengan kata lain hanya pembeli dan penjual saja yang mengetahui tawar menawar harga. 

Pembeli tidak takut dicemooh orang lain karena menawar terlalu rendah, penjual pun tidak akan ditertawakan jika menjual dengan harga dibawah pasar.


Tradisi unik tersebut diyakini telah berlansung sejak zaman kerajaan di wilayah Minangkabau. 

Sampai sekarang tradisi marosok masih lazim digunakan di pasar ternak dimanapun di Sumatera Barat. Bagian dari kebudayaan asli minang ini nampaknya masih dipegang teguh oleh peternak dan pembeli hewan ternak. Selain unik, kearifan lokal ini kaya akan nilai manfaat, kearifan dan kebijaksanaan.


Kemudian sahabat tentunya penasaran, apa sih yang dilakukan masing-masing telapak tangan “berduaan” di dalam sarung. Misalnya ketika seorang pembeli menawar sapi seharga 16 juta. Pertama sekali ia memegang telunjuk dan tengah penjual, untuk mengisyaratkan bilangan 20 juta. 

Kemudian pembeli mengambil empat jari pejual dan menggoyangkannya kekiri, ini menunjukan bahwa dari nilai tawaran pertama (10 juta) dikurangi 4 juta, sehingga terbentuklah nilai 6 juta rupiah. Untuk menambahkan 400 ribu, peembeli menahan 4 jari penjual tadi dan menghentakkannya ke bawah. Artinya ditambahkan sebanyak 400 ribu.

Untuk lebih jelasnya bisa lihat video berikut :

video


Sebagai catatan kecil, transaksi tidak mesti hanya ditutup dengan sarung tapi bisa dengan apa saja, karena yang terpenting adalah sifat rahasia dari transaksi. Kerahasiaan tersebut untuk menjamin rasa saling curiga dan tekanan pihak ketiga, masing-masing pihak ikhlas untuk melaksanakan apapun hasil dari transaksi.