Tega Banget, Bripka Edward Ternyata Sengaja Umpankan Pacarnya untuk Merayu Bripka Jenli

Tags



Kapolres Pelabuhan Belawan, AKBP Yemi Mandagi benar-benar kesal dengan sikap anggotanya Bripka Edward Efendi Hasibuan alias Edo (36). Ia menjadi otak pelaku pencurian mobil dan senjata api milik Bripka Jenli Hendra Damanik, anggota Polsek Medan Kota.
Saat ditemui Tribun di Mako Brimob Polda Sumut, Yemi mengatakan Bripka Edward sudah tidak pantas menjadi anggota Polri.
"Dia itu layak ditembak mati saja. Tidak layak lagi dia jadi anggota Polri. Memalukan. Dia itu DPO. Sudah banyak kasusnya itu. Layak itu ditembak mati," kata Yemi, Rabu (3/5).
Ia mengatakan, Bripka Edward Efendi selama ini bertugas di Satuan Lalu Lintas Polres Pelabuhan Belawan. Sudah sembilan bulan, Bripka Edward lari dari kesatuan.
Untuk proses hukumnya, lanjut Yemi, saat ini ditangani Polrestabes Medan. Sebab, Satreskrim Polrestabes Medan yang menangkap Bripka Edward.
"Nanti kalau sudah selesai proses hukumnya di Polrestabes, baru kita tangani kode etiknya," tegas Yemi.
Kapolrestabes Medan, Kombes Sandi Nugroho mengatakan, kasus ini masih ditangani Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Medan.
Kata Sandi, dari hasil pemeriksaan sementara diketahui Bripka Edward Efendi Hasibuan dengan Siti Nurhalizah Sitorus adalah berpacaran.
"Perempuan itu (yang dijadikan umpan untuk membius Bripka Jenli) adalah pacar otak pelaku (Bripka Edward). Mereka ini sudah lama berhubungan," kata Sandi.
Sebelumnya, Bripka Edward Efendi Hasibuan ditangkap bersama komplotannya di satu rumah di kawasan Mabar, Medan Deli pada Minggu (30/4).
Dalam aksinya, Bripka Edward mengumpankan pacarnya Siti Nurhalizah Sitorus alias Puput (20).
Modus yang dilakukan pelaku, dengan cara berkenalan lewat Facebook. Setelah itu, umpan bernama Siti yang menyaru sebagai Putri mengajak Bripka Jenli menginap di Hotel Lonari Jalan Djamin Ginting Medan.
Saat berada di hotel, Bripka Jenli dibius dan mobilnya dibawa kabur. Tak hanya kehilangan mobil, Jenli juga kehilangan senjata api jenis revolver yang disimpannya di dalam mobil Inova Silver berplat palsu BM 1000.
Kronologi Kejadian
Awalnya korban berkenalan dengan tersangka mengaku bernama Putri Boru Sitorus tinggal di kawasan P Brayan melalui sosial media Facebook. Senin (24/4) sekira jam 04.00 wib, Bripka Jenli Hendra Damanik dihubungi Putri yang baru dikenal tiga hari untuk bertemu di jembatan layang (fly over) Brayan.
Namun setelah di jembatan layang Brayan ternyata Putri tidak berada disana. Tidak beberapa lama kemudian, Bripka Jenli Hendra Damanik kembali dihubungi Putri dan akan bertemu di Jalan Halat Medan. Hanya hitungan menit, Putri datang menjumpai korban dengan menaiki becak mesin di Jalan Halat Medan tepatnya dekat simpang Jalan Ismailiyah Medan. \
Putri lalu dipersilahkan masuk ke dalam mobil Kijang Innova warna Silver No. Pol BK 1949 GM dengan plat palsu BM 1000, yang digunakan korban. Setelah itu, korban diajak untuk menginap di hotel Lonari Jalan jamin Ginting Padang Bulan dengan kamar PS 005 lantai 2.
Saat itu, tersangka meminta beli minuman dan korban membeli minuman bir. Namun setelah minum bir, korban pergi ke kamar mandi. Diduga disaat berada di kamar mandi, tersangka menyuguhi sesuatu di dalam minuman bir. Karena usai minum bir yang ditawarkan tersangka, korban tertidur.
Ternyata setelah terbangun, mobil dan senjata api milik korban yang terletak di dalam mobilnya, sudah hilang bersama tersangka.
Berdasarkan laporan tersebut, Tim Serse Polrestabes Medan turun ke lokasi kejadian dan akhirnya berhasil menangkap para pelaku dari kawasan Medan Labuhan. Dari hasil interogasi terhadap keempat tersangka yang diamankan, ungkap Febriansyah, tersangka Siti Nurhalizah Sitorus mengajak bertemu korban hingga menginap di hotel lalu menyuguhkan minuman bir yang sdah tercampur obat bius.
“Sedangkan Edward Efendi, dia merupakan anggota kepolisian dan bertugas sebagai perencana. Dialah yang merencanakan mengambil mobil dan senjata korban, hingga menjualkan mobil korban di Kafe Mas Bro di Jalan Gagak Hitam, Ringroad, Medan,” ungkap, AKBP Febriansyah.
Sedangkan Mhd Budi, lanjut Febriansyah, berperan membeli obat bius dari Ipin Sinaga (DPO) dan memberikan obat bius kepada tersangka Edward Efendi hingga menerima imbalan sebesar Rp 2,2 juta dari Edwar Efendi sewaktu berhasil menjual barang hasil curian. “Untuk tersangka, Heri Afandi Nainggolan, bertugas mengantarkan Edward Efendi Hasibuan ke TKP Hotel Lonari dengan kreta Yamaha Mio untuk mengambil mobil korban. Selanjutnya, Heri Afandi Nainggolan ikut menjualkan mobil di Kafe mas bro Jalan Gagak Hitam. Dia bahkan menerima imbalan sebesar Rp 3 juta yang diberikan Edward Efendi Hasibuan,” pungkasnya.