Pertemuan dengan Calon Mertuaku Membuat Aku Harus Putus dengan Dirinya. Semua Karena "Masa Lalu" yang Tidak Selesai Ini!

Tags


Hmmm... Kasihan ya teman - teman.. Memang setiap orang punya masa lalu, tapi harus diselesaikan!

Aku berusia 30 tahun dan pacarku 29 tahun. Kami dijodohkan oleh kedua orangtua kami karna usia kami yang tidak muda lagi dan belum menikah.

Aku sendiri tidak pernah berpacaran dengan cowok karna kejadian yang buat aku muak dengan cowok, tapi aku juga bukan lesbian! Aku hanya jijik dengan cowok karna satu kejadian dulu.

Tetapi, setiap kali aku lihat orang lain berpacaran, rasanya aku juga pengen ikut berpacaran. Apa yang orangtua aku inginkan hanya aku bisa sehat dan dapat pekerjaan tetap.

Setiap kali tetangga merasa aku sudah waktunya menikah, papaku pasti berkata kalau aku pintar dan cantik, jadi calon menantunya harus memiliki standart yang tinggi, 

tapi lama kelamaan, eh papa mama aku malah jadi lebih cemas dan akhirnya mau menjodohkan aku dengan pria - pria pilihan mereka.

Aku sudah dijodohkan dengan banyak pria tapi tidak ada yang cocok, sampai satu kali aku dijodohkan dengan guru SMP. Orangnya dewasa, cukup tampan, dan juga sopan.

Kita saling tertarik satu sama lain dan akhirnya aku mengiyakan untuk menjalin hubungan dengan dirinya.

Namun aku memegang prinsip untuk tidak melakukan hubungan apapun diluar pernikahan, beberapa kali dalam hubungan kita dia berusaha untuk minta lebih namun tetap aku menolak.

Yang buat aku senang adalah, dia tidak marah dan minta maaf kalau dia tidak berlaku sopan. Kita bincang - bincang banyak sekali...! Cerita soal pacarnya dulu, keluarga, Dll.

Hanya satu hal yang buat dia heran, kenapa aku belum pernah berpacaran sama sekali. Aku hanya menjawab gak ada yang cocok.

Kita sudah berpacaran 4 bulan dan dia bawa aku bertemu dengan orangtuanya. Aku belikan oleh - oleh untuk papa mamanya biar aku kelihatan sopan dan tidak tegang.
Sesampai di rumahnya, papanya menyambut kita berdua dan, ekspresi papanya sepertinya kaget sekali! Bahkan sampai bengong melihat wajahku, tubuhku, sampai kakiku...

Aku malu! Gak bebas! Sampai anaknya sendiri yang "membangunkan" papanya dari bengongnya. Mamanya akhirnya keluar dan mempersilahkan aku duduk di ruang tamu.

Sesampai di ruang tamu, cowokku sibuk sana sini membereskan rumah dan aku duduk di ruang tamu bersama papa mamanya. Tapi papanya kumat lagi, dia melihatku serasa aku pernah mati dulu.

Aku benar - benar gak merasa bebas waktu itu, tapi aku hanya bisa diam secara mereka masih asing bagiku.

Papa mamanya bertanya banyak hal, dan aku hanya jawab apa yang aku bisa jawab. Asalku darimana, namaku siapa, sekolah dimana, apa cita - citaku.... dan sebagainya...


Esok harinya, ada telepon yang datang. Aku angkat dan suaranya berkata,"Halo, aku papanya Heri (nama cowokku). Kemarin kita sudah ketemu tapi aku ingin ajak kamu keluar berdua. Ada hal yang ingin aku bicarakan"

Aku gak bisa menolak dong, jadi aku iyakan dan kita bertemu di taman yang sudah ditentukan papanya.

Kita pun bertemu, dan dia langsung ceplas ceplos berkata dia minta aku putus dengan anaknya! Aku kaget! Kenapa? Bukankah kita cocok?

Namun dia menjawab dengan rasa penyesalan seperti ini,"Dik, aku polisi, dan aku juga berasal dari kampungmu... Aku salah satu polisi yang menyelesaikan kasusmu dulu. Aku tahu, saat kamu 16 tahun, orang jahat itu.... Ah sudahlah, pokoknya kejadian itu, aku tahu kamu pasti merasa jijik dengan pria. Sudah banyak kasus seperti kamu yang buat para wanita jadi takut dengan pria. Aku tahu kamu anak yang baik, tapi aku mau yang terbaik buat suamiku. Sebelum kamu sembuh, aku berharap kamu jangan menikah dulu. Pernikahan kalian akan rusak kalau kamu masih menyimpan dendam itu! Jadi aku harap, putuskanlah anakku. Aku sebagai seorang ayah gak bisa menyetujui hubungan kalian."

Begitu dia berkata seperti itu, aku menangis... Aku tahu kalau sakit hati karna aku diperkosa dulu belum dituntaskan. Aku mengerti maksud papa cowokku ini dan aku membalasnya,"Oke om... Aku ngerti, demi kebahagian Heri juga aku akan memutuskan dia. Tapi plis Om, jaga rahasiaku ini."

Dan papanya mengiyakan permintaanku. Aku pergi dan menangis lama sekali dalam taksi. Aku pun putus dengan Heri tanpa alasan yang jelas, Heri marah, tapi aku tahu, ini semua demi kebaikan dirinya dan diriku kelak.

Aku berharap dari ceritaku, sepahit apapun masa lalu kita, jangan disimpan sampai membusuk karna busuk itu tetap ada di sana. Keluarkan, selesaikan, sehingga kelak nanti, tidak akan ada lagi orang yang menjadi korban kepahitan kita...

@Cerpen.co.id