MENGEMPARKAN!!!!!!! Tinggalkan Banyak Harta, Agnesya dan Anaknya Tak Bakalan Dapat Warisan Dodi, Ternyata Ini Penyebabnya, Sangat Mengejutkan..???

Tags



Almarhum Dodi Triono, arsitek korban pembunuhan di Pulomas, Jakarta Timur, di ketahui tiga kali menikah dan dikaruniai enam anak. 

Pernikahan pertamanya dengan Sri Dewi (54), seorang notaris. 
Dari pernikahan Dodi dan Dewi, lahir tiga anak, yaitu Setya Detri, Andina, dan Andini.  

Namun, pernikahan mereka kandas pada sejak mulai enam th. silam. 
Dodi lalu menikah untuk kali ke-2. 
Istri ke-2 bernama Almynda Saphirra (40). 



Dari pernikahan ke-2 itu, lahir tiga putri, yakni Diona ArikaAndra, Zanette Kalila Azaria, dan Dianita Gemma. 

Lagi, pernikahan Dodi untuk kali ke-2 berekor cerai sejak mulai mulai sejak tiga th. lalu. 
Paling akhir, Dodi menikah dengan Elsya Agnesya Kalangi (19), mulai sejak th. 2015 dengan cara siri. 

Oleh putri Dodi, Agnesya di panggil “mama baru”. 
Saat ini, Agnesya harus terima fakta pahit. 

Dia yang berakrier sebagai type harus ditinggal pergi suami untuk selamanya karena jadi korban pembunuhan dengan cara sadis oleh pelaku Ramlan Butar Butar dan Erwin Situmorang. 

Walaupun sebenarnya, wanita asal Makassar ini dikabarkan tengah hamil tujuh bln.. 
Sang calon buah hati juga harus jadi yatim sejak mulai dalam kandungan. 
Dodi sekarang ini pergi untuk selama-selamanya meninggalkan beberapa orang tercinta, anak dan istri yang masih tetap hidup. 

Selain itu, alumnus Kampus Indonesia itu juga pergi meninggalkan banyak harta benda. 
Sekurang-kurangnya, dua rumah di Pulomas, termasuk tempat pembunuhan. 
Pria yang semasa hidupnya itu menjabat ketua rukun tetangga atau RT juga mengoleksi mobil sport merk Lamborghini, Ferrari, Bentley, Hummer, Porsche, Mercedez Benz. 
Juga MPV premium Vellfire serta mobil mini Mini Cooper, dan Jeep Wrangler. 
Lalu, pada siapa bakal diwariskan mobil dan rumah itu? 
Pasti pada putra dan putrinya yang masihlah hidup, kecuali Diona dan Gemma yang turut jadi korban pembunuhan. 
Merekalah jadi ahli waris. 
Namun, apakah anak dikandung Agnesya bakal peroleh warisan? 
Terkait permasalahan itu, ada jawabannya. 

Di bawah ini info di ambil dari klinik hukum daring, Hukumonline. com. 
Tentang anak yang lahir dari perkawinan siri ini masihlah jadi perbincangan yang cukup panjang. 

Menurut Pasal 4 Gabungan Hukum Islam (“KHI”), perkawinan yakni sah, bila ditangani menurut hukum Islam sesuai sama Pasal 2 ayat (1) Undang Undang Nomor 1 Th.

1974 tentang Perkawinan (“UUP”) yang mengatakan “Perkawinan yakni sah bila ditangani menurut hukum semasing agama dan kepercayaannya itu. ” 

Namun, perkawinan itu harus dilaporkan dan dicatat di Kantor Masalah Agama atau di Catatan Sipil untuk yang tidaklah beragama Islam. 

Hal sejenis ini sesuai sama ketentuan Pasal 2 ayat (2) UUP yang menyebutkan, “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut ketetapan perundang-undangan yang berlaku. 

Demikian perihal di dalam Pasal 5 KHI dijelaskan : 

(1) Agar terjamin ketertiban perkawinan untuk orang-orang Islam tiap-tiap perkawinan harus dicatat. 

(2) Pencatatan perkawinan itu pada ayat (1), dikerjakan oleh Pegawai Pencatat Nikah seperti yang diatur dalam Undang Undang Nomor 22 Th. 1946 jo Undang-Undang No. 32 Th. 1954. 

Tak ada pencatatan itu, jadi anak yang lahir dari pernikahan siri hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya atau keluarga ibunya. 

Pasal 42 UUP mengatakan bila, “Anak yang sah yakni anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah”, dan Pasal 43 ayat (1) UUP menyampaikan, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. ” 

Ini bisa dikuatkan dengan ketentuan KHI tentang waris yaitu Pasal 186 yang berbunyi, ”Anak yang lahir di luar perkawinan hanya memiliki hubungan sama-sama mewaris dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya. ” Oleh karena itu, dia hanya mewaris dari ibunya saja. 

Apabila berdasar pada Pasal 863 – Pasal 873 KUH Perdata, jadi anak luar nikah yang memiliki hak peroleh warisan dari ayahnya yakni anak luar nikah yang diakui oleh ayahnya (pewaris) atau anak luar nikah yang disahkan ketika dilangsungkannya pernikahan pada ke-2 orangtuanya. 

Untuk anak luar nikah yg tidak pernah diakui atau tidak pernah diakui oleh Ppewaris (dalam hal ini ayahnya), berdasar pada Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010 yang menguji Pasal 43 ayat (1) UUP, sampai pasal itu harus dibaca : 

“Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai jalinan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya dan dengan lelaki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasar pada ilmu dan pengetahuan dan tehnologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai jalinan darah, termasuk jalinan perdata dengan keluarga ayahnya. ” 

Jadi anak luar nikah itu dapat tunjukkan dirinya sebagai anak kandung dari pewaris. 
Akan tetapi, apabila mengacu pada Pasal 285 KUHPerdata yang mengatakan bila bila berjalan pernyataan dari ayahnya, sampai menyebabkan hubungan hukum pada pewaris dengan anak luar nikahnya itu, jadi pernyataan anak luar nikah itu tidak dapat merugikan pihak istri dan anak-anak kandung pewaris. 
Artinya, anak luar knikah itu dikira tak ada. 

Oleh karena itu, pembuktian ada hubungan hukum dari anak hasil pernikahan siri itu tidak mengakibatkan dia dapat mewaris dari ayah kandungnya (walau lewat cara teknologi dapat dibuktikan). 

Pendapat ini bisa dikuatkan oleh Fatwa dari Majelis Ulama Indonesia tanggal 10 Maret 2012 yang menyebutkan bila anak siri itu hanya mempunyai hak atas wasiat wajibah. 
Untuk Agnesya, sebagai istri siri, dia akan kehilangan atau tidak sepenuhnya peroleh hak-hak yang umum diterima oleh dua sisa istri Dodi. 

Istri dengan cara hukum negara tidak mempunyai hak untuk menuntut hak pembagian harta gono-gini, karena pernikahan mereka oleh negara dikira tidak pernah berjalan. 

(*) http :// bangkatribunnews. com/2017/01/06/tinggalkan-banyak-harta-agnesya-dan-anaknya-tak-bakalan-dapat-warisan-dodi-inilah-sebabnya? page=all