Disiksa Pemerintah China, Muslim Uighur Minta Doa Rakyat Indonesia ((Tolong Dibagikan Agar Semua Orang Mendoakan Kabar Ini))

“Kami tidak ada pilihan. Di China kami disiksa, ulama kami dibunuh, dan kami dilarang membangun Sekolah...



Transkrip Laporan Wakakorb : Potensi Kerusuhan & Pasukan Khusus China Hadang Aksi 4 November

Penderitaan Muslim Uyghur seharusnya menjadi perhatian umat Islam dunia. Karena apa yang dialami Muslim Uyghur tak jauh lain dengan situasi di Gaza, Suriah, maupun Patani. Peran itu seharusnya dapat dimainkan oleh Indonesia sebagai negara mayoritas muslim.

Demikian harapan beberapa pengungsi Uyghur waktu didapati Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Turki, akhir September 2014.

Saat ditemui, keadaan mereka begitu memperihatinkan. Amin, yang merencanakan pindah ke Suriah bersama keluarganya, mengakui sangat terpaksa keluar dari kampung halamannya karena tidak tahan kezhaliman yang dikerjakan pemerintah China.

“Kami tak ada pilihan. Di China kami disiksa, ulama kami dibunuh, serta kami dilarang membangun sekolah, ” tutur Amin bersama istri dan satu anaknya bernama Muslimah (4 tahun).

Amin menjelaskan, Muslim Uyghur tak dapat menggerakkan ajaran Islam sepenuhnya di China.

“Bahkan untuk memelihara jenggot saja kami dipenjara, ” katanya yang menjelaskan ada beberapa ribu Ulama Uyghur dipenjara oleh pemerintah China.

JITU juga mengkonfirmasi berita bahwa muslim Uyghur dipaksa untuk berbuka puasa oleh pemerintah China. Amin juga membenarkannya. Berita itu, katanya, bukanlah isapan jempol semata.


“Berita itu benar ada. Kami dipaksa untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan, ” katanya prihatin.

Saat ditanya, apakah Muslim Uyghur mempunyai website khusus agar media-media di Indonesia dapat membuka penderitaan Muslim Uyghur, Amin menjelaskan kalau pemerintah China melarang mereka lakukan itu.

“Banyak dari kami takut bicara ke dunia, karena pemerintah akan memenjara kami, ” terangnya.

“Karena itu, semua akses info ditutup rapat-rapat oleh pemerintah China, ” tambahnya.

Hal sama juga disebutkan Abdullah. Remaja berumur 18 tahun ini pilih keluar diam-diam dari kampung halamannya untuk pindah ke Suriah. Bukan hal mudah untuk Abdullah untuk keluar. Sebab bila pemerintah China tahu dianya akan pergi ke Suriah, pasti akan di tangkap.

Abdullah menjelaskan nestapa muslimah Uyghur saat melahirkan. Banyak dari beberapa muslimah itu mesti berpisah dengan anaknya karena arogansi pemerintah China.

“Saat mereka lahir, bayi mereka di ambil oleh pemerintah, ” terangnya dengan bahasa Arab yang cukup fasih.

Intoleransi pemerintah untuk menghalangi pergantian umat Islam tak berhenti disana. Abdullah menjelaskan walau usianya telah 18 tahun namun dia belum pernah merasakan sekolah agama resmi.

“Di Provinsi Xinjiang, pemerintah melarang umat Islam untuk membangun madrasah, ” tandas Abdullah yang menjelaskan sebutan Xinjiang yaitu bentuk stereotype pemerintah China.

Umat Islam di Propinsi Xinjiang lebih sukai disebut Muslim Uyghur.

Mengharapkan Peran Indonesia

Amin mengharapkan Indonesia sebagai negara sebagian besar muslim dapat perduli pada nasib saudaranya di Uyghur. Sebab muslim Uyghur telah tak tahan dengan kekerasan yang dilakukan pemerintah China.

“Kami mengharapkan supaya muslim Indonesia selalu memberitakan kondisi kami. Ada ribuan ulama kami yang saat ini di penjara oleh pemerintah China. Mereka disiksa serta dibunuh. Kami minta muslim Indonesia mendoakan kami, ” katanya.

Subscribe to receive free email updates: