Laki-laki Bisa Sukses dan Hancur karena Wanita

Tags

Setelah lulus SMA aku semakin mengerti luka yang Ibu sembunyikan selama ini. jika dulu setiap kali aku bertanya kemana Ayah, jawabnya selalu urusan pekerjaan. Namun, semakin bertambahnya usiaku, aku mengerti, aku paham, Ayah memang telah berubah 180 derajat dari Ayah yang dulu. Kini aku tahu ternyata di luar sana Ayah merajut asmara dengan wanita selain Ibu. Hatiku hancur dengan seketika membenci sosok Ayah yang dulu aku banggakan. Jika aku saja sedemikian hancurnya apa lagi Ibu yang telah mendampingi Ayah selama 20 tahun ini. 

Menemani Ayah yang menikahinya sejak Ibu berusia 16 tahun, usia yang sangat belia. Namun Ibu tak bisa menolak karena nenekku sudah tak ada saat Ibu berusia 16 tahun. Pilihan menerima pinangan Ayah juga tak terlepas dari pikiran agar ada yang melindungi. Berusaha menumbuhkan cinta di setiap harinya dalam kehidupan rumah tangga yang mereka jalani, hingga cinta itu ada dan bersemai dengan indah. Menjadikan diriku ada dan Rey sebagai pelengkap kebahagiaan mereka. Kisah cinta yang indah dan sempurna.

Memasuki tahun ke-21 pernikahan Ibu dan Ayah, sikap Ayah mulai berubah seiring bertambah majunya usaha yang Ayah jalani. Keretakan itu justru terjadi di usia pernikahan mereka yang sudah tak bisa dikatakan muda.

Kini aku hanya bisa berusaha menguatkan Ibu, memeluknya ketika Ibu butuh pelukan seorang suami, menghapus air mata Ibu ketika mulai membanjiri pipinya yang selalu aku kecup manja.

Banyak omongan miring tentang Ayah di luar sana. Tersiar kabar jika Ayah telah menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuan Ibu. Saat Ibu mendengar kabar itu dari adiknya langsung, Ibu begitu lemah. Seakan persendiannya terasa lumpuh.

Wanita yang dinikahi Ayah, di mataku tidak lebih dari seorang wanita perebut suami orang yang kala itu sedang naik-naiknya. Wanita itu memang bohai, bodynya memang aduhai, tapi aku sangat benci wanita itu, karena telah membuat Ibu menderita, karena telah merebut kebahagian kami dan menjadikannya luka.

Aku mulai tak tahan dengan semua pemandangan yang terasa sadis ini. Ayah selalu membanding-bandingkan Ibu dengan wanitanya yang bohai nan aduhai itu. Tidakkah Ayah berpikir siapa yang selama ini menemaninya sampai ia berteman sukses? Mungkin Ayah telah dibutakan dengan tipu daya dunia yang tersamar dalam kecantikan.

Sekian hari Ibu tenggelam dalam air mata yang selalu menjadi temanya selama beberapa tahun belakangan ini. Akhirnya sebuah perpisahan menjadi pilihan ketika tak ada lagi yang bisa dipertahankan.

Seolah terlepas dari beban yang mencengkramnya. Kini Ibu lebih bisa menerima apa yang telah terjadi, mencoba mengikhlaskan apa yang telah dimilikinya selama ini. Mungkin Ayah hanya akan menjadi masa lalu Ibu yang tak akan pernah kembali.

Aku, Ibu, dan Rey tetap meneruskan hidup tanpa seorang Ayah disisi kami. Lagi pula kini aku dan Rey telah cukup dewasa, urusan makan tak lagi perlu kau hiraukan Ayah. Aku dan Rey bisa menafkahi hidup kami sendiri juga Ibu.

Hingga tiba dimana aku menemukan cinta yang menyempurnakan hidupku. Cinta yang hampir sama maknanya dengan cintaku terhadap Ibu. Lelaki yang telah menjadi kekasihku dua tahun kebelakang meminangku, memintaku kepada Ibu untuk ia jadikan Istri. Aku terharu ketika mendengar calon suamiku meminta restu dari Ibu dan melamarku di depan keluarga besar kala itu, walau merasa ada yang kurang karena Ayah tak ada, tapi itu tidak akan merusak kebahagianku bersama Ibu dan keluargaku yang lain.

H-2 pernikahan, Aku mendekat pada Ibu yang terlihat merenung sendiri, aku tanya kenapa, beliau memelukku dan tak aku sangka setitik air jernih turun melintasi garis pipi Ibu, seolah Ibu tak ingin melepasku, akupun ikut menangis kala itu.

 Ibu tak usah khawatir, setelah menikah nanti, Ibu ikut denganku.

Tiba saatnya hari dimana Ijab dan Qabul akan disenandungkan. Ijab? Haruskah Ayah yang mengucapkannya? Iya, dia memang tetap harus menjadi wali dalam pernikahanku, walau aku tahu ini tidak akan mudah bagi Ibu, ketika melihat laki-laki yang telah membuatnya hancur hadir kembali di hadapannya. Tapi Ibu tetap berbesar hati.

Lelaki itu datang, dia datang mengenakan batik yang serupa dengan wanita bohai itu dan kedua anak perempuannya. Ya Tuhan, dia datang bersama keluarga barunya di pernikahanku. Hatiku sakit melihat ini, seolah masih tak bisa terima jika semua telah terjadi. Sebetulnya aku dan Ibu mungkin telah mengikhlaskan, tapi ketika dia muncul bersama dengan wanita itu, rasanya sakit kembali hadir, kembali menusuk-nusuk jantungku, apa lagi Ibu.

Ayah berhasil membuat tangis yang tak seharusnya di pernikahanku, namun saat itu Aku tidak terlalu peduli, lagi pula ini harus menjadi hari bahagiaku. Namun, bagaimana dengan Ibu? Apa Ibu sanggup melihat ini? Aku tak bisa bayangkan itu.

Selama Ijab dan Qabul berlangsung, ternyata wanita itu cukup tahu diri dengan tidak ada di hadapan keluarga besar kami terlebih Ibu. Syukurlah Ijab dan Qabul telah berlangsung, Ibu? Ibu terlihat menahan tangis. Ayah dan Ibu hanya saling memandang tak begitu lama tanpa bersuara. Memang tidak ada cinta lagi dari keduanya, yang tersisa hanya luka.

Wanita itu? Wanita itu terlihat bernyanyi dan bergoyang diatas panggung kebahagianku. Dia bernyanyi di temani Ayah di sampingnya. Apa wanita itu tidak berpikir jika ini adalah pernikahanku? pernikahan anak dari lelaki yang telah ia rebut dari Ibuku, apa Ayah dan wanita itu tidak berpikir bagaimana perasaan Ibu melihat mereka bermesraan di atas panggung kebahagianku?

Ibu sudah tak nampak dalam acara bahagiaku, rupanya ia mengurung diri di kamar, menangis dalam kesendiriannya. Aku bisa mengerti apa yang Ibu rasakan saat itu, tapi aku harus tetap berada di pelaminan menghargai tamu yang terus berdatangan.

Rasanya ingin aku usir saja mereka dari sini, tapi tidak mungkin, aku telah dengan manis mengenakan kebaya putih ini, dan harus tetap menebar senyum pada mereka yang datang.

Semua telah berlalu. Kini aku menikmati peranku sebagai seorang istri juga sebagai seorang Ibu, suamiku membuka usaha konfeksi dan kami menjalankannya bersama, kini aku telah memiliki seorang jagoan berusia 6 tahun dan putri kecil berusia 2 tahun, begitu pula dengan Ibu yang telah bisa terbiasa tanpa Ayah dan menikmati perannya sebagai seorang nenek yang begitu mencintai cucunya, kami hidup sederhana namun bisa menikmati semua anugrah yang Tuhan berikan untuk kami..


Silahkan ambil hikmah dan pelajarannya ya...