BUNG KARNO ISLAM TULEN : Kritik Bung Karno Terhadap Agama Islam dan Takhayul

Tags

orang berpendapat Soekarno pengikut ajaran mistik yang percaya dengan hal-hal yang berbau takhayul. Pendapat ini didasarkan dari banyak cerita yang menyebutkan dia mempercayainya.

Namun, saat berada dalam pengasingan di Flores, sebetulnya Soekarno telah membuang kepercayaannya terhadap dunia takhayul untuk selamanya. Tetapi, masih saja ada yang mengatakan dirinya sebagai penganut mistik dan berbagai takhayul.

Sebelum dibuang ke Flores, saat berada di Bandung, ada seorang pengagumnya yang datang memberikan cincin batu. Di dalam batu itu terdapat lubang berisi cairan hitam dan biji kecil yang mengapung.

Biji kecil dalam batu itu mengapung di dalam air dan selalu bergerak ke atas permukaan. Pemilik batu itu mengatakan kepada Soekarno bahwa batu tersebut dapat memberikan keberuntungan bagi pemakainya.
Sebelum pergi, orang itu berpesan kepada Soekarno. Dia mengatakan, biji yang mengapung itu direndam dalam ilmu hitam. "Soekarno, semoga engkau tetap berada di atas seperti biji yang mengapung itu".

Saat itu, Soekarno mempercayai perkataan orang itu. Dia lalu memakai cincin batu itu kemana pun dia pergi dengan harapan, selalu mendapat keberuntungan dan keselamatan seperti biji dalam batu itu.
Namun, hal yang sangat tidak diduga terjadi. Soekarno ditangkap dan dibuang ke Flores. Pembuangan itu berdampak sangat besar terhadap kepercayaan Soekarno kepada mistik dan tahayul di kemudian hari.

Sebelumnya, Soekarno sangat dipengaruhi oleh berbagai mistik dan takhayul yang ada di sekitarnya. Bahkan, bisa dibilang mistik dan takhayul itu lah yang lebih menguasai dirinya dari pada dirinya sendiri.

Dia sangat takut melanggar pantangan yang diberikan kepadanya, seperti makan di atas piring retak karena dipercayai membawa sial dan mendatangkan musibah. Hal-hal seperti ini dipercayai Soekarno.
Namun ketakutan Soekarno segera sirna, saat dia berada di tempat pembuangan. Saat itu, dia berusaha memberanikan diri dan sengaja meminta piring retak untuk makan. Pada awalnya dia gemetar.

Saat piring sudah berada di atas meja, dia lalu memandang piring itu dengan tajam dan memaki-makinya. Ini merupakan cara Soekarno untuk membebaskan diri dari mistik dan takhayul dalam dirinya.

"Engkau benda mati, tidak bernyawa dan tolol. Engkau tidak punya kekuasaan terhadap nasibku. Aku akan hadapi engkau. Sekarang aku memakai kamu untuk tempat makan," demikian Soekarno.
Sejak peristiwa itu, Soekarno tidak merasa takut lagi dengan berbagai pantangan-pantangan. Dia mulai terbebas dan tidak percaya dengan berbagai pikiran mistik dan takhayul yang telah menguasainya.
Dalam hati, Soekarno bergumam tentang apa yang telah dilaluinya selama ini. "Betapa jahatnya takhayul ini. Engkau tidak pernah makan di piring retak, karena percaya hal mengerikan akan terjadi," katanya
Dalam hati, Soekarno bergumam tentang apa yang telah dilaluinya selama ini. "Betapa jahatnya takhayul ini. Engkau tidak pernah makan di piring retak, karena percaya hal mengerikan akan terjadi," katanya.

Namun begitu, Soekarno tetap memakai cincin batu yang diberikan kepadanya sebagai pertanda keberuntungan. Dia belum bisa terlepas dari cincin itu dan berpikir keras untuk melepaskannya.

Saat berada di Flores, Soekarno kerap mengalami kesulitan keuangan. Setelah melalui pergolakan batin hebat, akhirnya dia menemukan cara untuk benar-benar terbebas dari jimat yang diberikannya itu.

Dia lalu menghubungi kenalannya, seorang saudagar kopra yang kaya di daerah itu. Dia akan menjual cincin keberuntungan penggemarnya itu untuk menyambung hidupnya selama berada di Flores.

Setelah menerangkan tentang berbagai keistimewaan cincin batu itu, akhirnya tanpa pikir panjang saudagar kaya itu membelinya seharga 150 rupiah dan Soekarno pun terbebas dari takhayul untuk selamanya.
"Demikianlah aku melepas hartaku terakhir, yang disebut sebagai pembawa keberuntungan itu. Dengan telah terbebasnya aku dari takhayul tidakkah aku harus berterima kasih kepada Flores?" terangnya.

Selama di Flores, Soekarno juga mulai mendalami pengetahuan agama Islam yang dipegang teguh hingga akhir hayatnya. Hal itu dia lakukan dengan melakukan surat menyurat kepada seorang ulama.

Ulama itu adalah A Hasan. Dia adalah salah seorang tokoh pemimpin Islam reformis Persatuan Islam (Perkumpulan Islam) atau Persis. Dia berkenalan dengan A Hasan saat masih berada di Bandung.

Surat menyurat Soekarno kepada A Hasan mulai dilakukan sejak 1 Desember 1934. Dalam suratnya yang pertama, dia meminta A Hasan untuk mengiriminya buku-buku pelajaran tentang Islam.

"Tidak ada agama yang lebih mendukung kesamaan manusia daripada Islam," katanya suatu kali dalam suratnya kepada A Hasan.
Dalam surat menyurat itu Soekarno banyak melakukan analisa kritis terhadap hadis yang menurutnya banyak dari hadis-hadis itu tidak berisi dan palsu, hingga membuat agama Islam tertinggal di belakang.

"Dengan demikian agama Islam diselubungi oleh kabut konservatisme, takhayul, fitnah, antirasionalisme, dan sebagainya. Padahal tidak ada agama yang lebih rasional dan sederhana daripada Islam," katanya.

Sebelum meneguhkan pemikirannya terhadap agama Islam dan memiliki pendapat tentangnya, Soekarno telah banyak melakukan studi banding dengan ajaran-ajaran agama lainnya, terutama Kristen.

Berbagai kajiannya dengan pemuka agama Kristen itu dia sampaikan kepada A Hasan sebagai wacana diskusi agama mereka. Hingga Soekarno sampai kepada kesimpulan sebab mundurnya agama Islam.
Menurutnya, yang membuat maju dan mundurnya agama Islam di Indonesia adalah para pemimpin spiritualnya, seperti para ulama dan kiai yang menolak ilmu modern dan hanya terpaku pada dunia Arab.

Dengan caranya sendiri, Soekarno sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah kemajuan. Untuk itu, dia ingin membuang segala bentuk ajaran Islam yang dinilainya kolot, menuju Islam yang modern.

Di rumah pengasingannya, Soekarno memiliki satu ruangan khusus untuk melaksanakan ibadah salat lima waktu. Setiap hari Jumat, dengan seisi rumah dia melaksanakan salat Jumat berjamaah.

Surat-surat Soekarno dengan A Hasan itu kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul "Surat-surat Islam dari Ende". Surat itu diterbitkan atas pemintaan A Hasan kepada Soekarno.

Sampai di sini ulasan singkat Cerita Pagi tentang Soekarno yang mendalami Islam dan terbebas dari takhayul. Semoga ulasan singkat ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca.

Sumber tulisan:

Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Yayasan Bung Karno bekerjasama Media Pressindo, 2011.
Lambert Giebels, Soekarno Biografi 1901-1950, Grasindo, 2001.