SUBHANALLAH "Dua Remaja Poland Pecinta Islam"

Tags

Kedua remaja pribumi ini adalah beberapa dari ratusan teman lokal yang kusayangi. Mereka adalah sosok cerdas yang ingin menggali islam lebih dalam, senang berpartisipasi dalam kegiatan sosial, serta mau menerima saran dan kritikan teman lain. Mereka berdua tanpa sengaja berjumpa dalam suatu acara formal pernikahan sepupu dari teman sekolah, ketertarikan tentang Islam membuat keduanya bertambah akrab dan berjanji untuk sama-sama berbagi informasi atau literature tentang Islam.
Hanna dan Olga, kedua sobat Krakow yang menularkan inspirasi padaku. Hanna gemetaran dan gugup kala berjumpa pertama kali di appartemen kami, “I can’t imagine that I will meet ‘real-muslimah’, real muslim-foreigner, in Krakow…” ia bilang bahwa dirinya sungguh berkeringat. Ia adalah salah satu jurnalis muda, volunteer berbagai kegiatan sosisal dan yayasan di gereja, yang selama ini ‘dijejali informasi’ tentang betapa buruknya kaum muslimin.
Hanna merasa tidak mempercayai doktrin-doktrin yang harus masuk ke kepalanya, terutama bahwa Islam adalah agama terorisme, bahwa ummat Islam harus ditolong dari ajaran sesat ‘terorisme’, bahwa jika bertemu muslim—amat berbahaya, bisa dibunuh, kecuali jika muslim ‘telah diselamatkan’ dari ajaran itu. Hanna tadinya berminat “menyelamatkan” ummat muslim dengan menjadi bagian dari “penyelamat”, tim yang dibentuk yayasan-yayasan gereja.
Namun kejujuran hati mengalahkan kebencian semunya, ia menemuiku untuk memastikan kebenaran doktrin-doktrin itu. “So, you are a muslim…. Really?” tampak wajahnya bagai tak percaya. Saya bilang, “Ratusan juta jumlah saudara-saudari muslimin di Indonesia, dear… mukanya ramah-ramah, baik hati dan tidak sombong, hehehe…” Apalagi di berbagai belahan bumi lainnya, kamu pasti akan banyak menemui ‘good muslims’. Hanya segelintir berita Eropa—meskipun ‘mengklaim’ sebagai media hebat dan memberitakan fitnah terhadap Islam itu, tak dapat meruntuhkan kecintaan terhadap Islam di hati hamba-hambaNya.
“Saya kira, saya akan ketemu orang yang mukanya sangar, bersiap-siap debat dengan saya, trus bisa saling mencaci maki… eh, ternyata malah diajak duduk minum teh, bisa ngobrol asyik, tenang… sungguh saya senang atmosfer dalam rumahmu…” ujarnya, ia tampak sangat bersemangat menanti pertemuan selanjutnya. Saya lumayan terkejut ketika dia berkata bahwa ada projek kerja yang nanti mengharuskannya tinggal di Indonesia dan Malaysia untuk ‘menyelamatkan’ muslimin yang tersesat. Subhanalloh, ternyata ia hampir sama dengan beberapa teman pribumi lainnya, berprofesi sebagai biarawati muda dan aktivis gereja.

Ratusan tema dibahas oleh Hanna, dimulai dari pilar agama mulia ini, tentang kedudukan wanita muslimah, fitnah syiah-ahmadiyah-aliran sufi dan ragam ‘sekte’ yang sering ‘meminjam nama Islam’, tentang pernikahan tanpa kencan, perceraian rumah tangga muslim, kegemaran sedekah, perjalanan haji, poligami, tentang peperangan dalam sejarah Islam, dan banyak lagi. Satu kali Hanna memperkenalkanku dengan beberapa teman aktivis-sukarelawan yang berasal dari Jepang dan Denmark. Ketika kami berdiskusi, teman-teman tersebut malah tampak antipati dan mulai mengantuk, sementara Hanna tak pernah kehabisan tema dan selalu menampakkan muka bersemangat.
Hari-hari kami bertambah akrab, Olga datang jauh dari luar kota—mengikuti Hanna yang bertamu di pagi weekend ke appartemenku. Olga sebenarnya satu universitas dengan Hanna, namun mereka tidak pernah berjumpa di kampus, karena berbeda jurusan, beda gedung kuliah. Olga bercerita bahwa ia amat terkesan dengan kisah-kisah yang Hanna ungkapkan jika ia berjumpa denganku. Bahkan Olga bilang, “Hanna always show the hijab, that’s from you, Ry…” maksudnya, Hanna berusaha menggunakan hijab pemberianku sesering mungkin, terutama ketika ke masjid, atau saat berjumpa denganku.
Olga juga mengikuti jejak Hanna, meminjam buku islami di Islamic Center Krakow. Selama ini, Olga tau ‘uniknya budaya pakaian’ di Asia, tentang hijab muslimah, tentang cuaca panas di timur tengah, yang kemudian ia jadi tertarik mempelajari sejarah dan budaya Islam, hingga ia pilih program kuliah khusus yang berkaitan dengan itu. Olga mengetahui banyak tentang hal tersebut dari sang ibu yang bekerja sebagai penjaga museum di kota tua, Bochnia, berdekatan dengan Krakow, Poland.
Olga dan Hanna sangat antusias mencoba beberapa model hijab yang kupunya. Dan ‘penelitian ringan’ pun pernah dijalani, yaitu ketika keduanya berhijab di depan publik. “Saya tidak berani deh, masyarakat pasti menuduh saya gila kalau memakainya di kotaku…” ujar Olga, ia ‘hanya’ mencoba pakai jilbab di depan kaca ruang tidurnya sendiri atau ketika berada di appartemenku.
Olga pernah menanyakan, “Benarkah orang Islam banyak mengumpulkan uang untuk dana terror terhadap orang-orang non-islam?” ia menyebut istilah ‘sedekah’ yang pernah dibacanya.
Namun sebelum kujawab, Hanna ‘nyeletuk’ duluan, “Kami pernah membahas dana sedekah dan zakat. Coba kalau di yayasan-yayasan gereja, orang tua kita disuruh bayar 10% penghasilan buat segala macam aktivitas, termasuk dana tugas misionaris. Kita yang miskin pun, harus rela menyisihkan 10% gaji, meski sudah dipotong pajak. Kalau dalam Islam, zakat itu 2,5%, pemberi zakat sudah ada syarat dan ketentuan hukum, penerimanya juga sudah ada kejelasan hukumnya, fakir miskin. Menurutku, itu fair… “
“Terus, kenapa berita-berita jahat tentang Islam, yang bahkan selalu menyebut terorisme sebagai kosa kata identik dengan islam, masih saja sering beredar, hebat media barat yah?” Olga menyimpulkan sendiri.
“Kerja sama, para anti-Islam bekerja sama alias konspirasi yang keji, makanya banyak manusia yang tak berdosa ikut menjadi korban, dear… Banyak korban fitnah, terutama pemimpin kaum muslimin yang masih berpegang teguh pada kejujuran. Banyak korban berita bohong, terutama masyarakat yang mengandalkan berita-berita di televisi dan Koran, contohnya di Krakow, yang menunjukkan sikap islamophobia pun ada, padahal orang itu sama sekali belum pernah mengenal orang-orang islam lebih dekat…” ucapku, keduanya mengangguk setuju.
Hanna menambahkan, “Seharusnya semua orang bertanya, datang langsung menemui orang Islam atau pemimpin ummat islam di area berdekatan agar tidak terkecoh media, sebagaimana yang saya lakukan.” Ia geleng-geleng kepala tatkala mengingat tetangganya ‘mengadukan prihal Hanna’ yang tampak berhijab di jalan (saat tak sengaja bertemu salah satu tetangga), “Be careful! Sekte-sekte terroris!” tetangga itu sampai melotot saat memperingatkan orang tuanya.
Kedua remaja pintar ini menyimpulkan bahwa media-media anti Islam ‘lumayan sukses’ menghasut penduduk Eropa dan dunia secara umum. Adanya orang-orang yang “ketakutan” melihat atau mendengar tentang Islam, serta kemudian menunjukkan diskriminasi terhadap muslimah, merupakan ciri ‘kejayaan’ tersebut. Hanna dan Olga mengalami sendiri. Keduanya menjadi ‘enggan’ berhijab jika jalan sendirian.
Suatu hari Hanna memakai hijab sepulang dari “berbagi mawar cinta Rosul” di Old-Town, ia diteriaki “Boooom!” oleh dua pemuda di tram yang dinaikinya. Demikian pula Olga (persis pengalaman sister lainnya di Krakow), ketika ia menggunakan pashmina yang menutupi seluruh kepala dan lehernya, orang-orang di bus memperhatikan dengan seksama. Salah satu penumpang berkata sinis dengan bahasa Poland yang artinya kira-kira, “Ini gadis yang gak bener!” perih hati mendengarnya.

Di lain hari, ketika mereka berdua pulang dari tempat kami berjumpa, seorang wanita berbisik-bisik kepada anaknya, dan si anak menampakkan muka penuh kebencian terhadap sosok di depannya itu. “Makanya, aneh sekali melihatmu begitu percaya diri, jalan-jalan di tengah kota, naik bus dan tram, sementara tetap berhijab, artinya menampakkan kemuslimahan kamu…” ucap Hanna. “Pasti berat sekali yah, menjadi muslim yang baik itu…” ujarnya lagi.
“Saya bisa percaya diri, tetap dengan hijab kemana-mana, dikarenakan belajar juga tentang keteguhan para pejuang Islam, dear… Se’sakit-sakitnya’ diskriminasi yang kita terima, itu belum apa-apa dibandingkan keteguhan para pendahulu kita…” kata-kataku membuatnya lebih banyak belajar, ia jadi  mengenal sosok ummahatul mukminin, serta sosok muslimah syahid lainnya di zaman rasulullah SAW dan para sahabat. Subhanalloh! Hanna berujar, “Pantas saja teman-teman ada yang ganti nama panggilan, menjadi Sumayya, Aisha, Khadijah, dan yang lainnya…”
“Saya bisa percaya diri juga karena do’a dari banyak saudara, kekuatan yang dahsyat, dear… juga karena ada sisters dan teman baik di sisiku, seperti kamu….” Kataku lagi, so sweet, Hanna memelukku erat-erat. Hanna meng-update artikel yang berkenaan dengan ummat Islam, mengimbangi beberapa berita di surat kabar lokal.
Beberapa kegiatan sosial kami lakukan bersama, Alhamdulillah Hanna dan Olga berkesempatan mengajakku ke sebuah yayasan kanker, yayasan anak berkebutuhan khusus dan rumah lansia secara spontan, sebelum kepindahan keluarga kami ke Kuwait. Olga dan ibunya mengundang kami ke museum di Bochnia, namun saat itu kami belum bisa menyepakati jadwal yang ada. Olga bilang, “Saya sangka, orang Islam itu tidak boleh berteman baik dengan yang non-Islam…” Ternyata faktanya berbeda.
Budaya Poland yang enggan menjalin pertemanan dan kikir dalam kehidupan sehari-hari menjadi berasimilasi dengan akhlaq yang baik sebagaimana ajaran islam, itu banyak terbukti pada keseharian sisters dan brothers muallaf di Krakow. Hanna dan Olga pun demikian. Meskipun belum menjadi muslimah, keduanya bercerita bahwa keluarga mereka merestui ‘ketertarikan mereka terhadap Islam’. Sehingga orang tua mereka ikut bergembira dengan pertemanan kami. Ayah dan ibu Hanna mengirimkan beberapa kue dan roti buatan sendiri, serta suatu waktu mereka memberi dua stoples besar susu sapi murni dan telur ayam hasil ternak sendiri tatkala Hanna mengunjungiku. Keluarga mereka mengundang kami ke desanya, namun belum dapat kupenuhi undangan tersebut.
Kaum manula Krakow dan Polandia secara umum, belum mengenal tentang Islam, yang kemudian merasa ‘tidak perlu mengetahuinya’, bahkan perlu membencinya akibat fitnah media barat. Keberadaan muslim dan muslimah yang istiqomah dalam rambu Islam sangat penting ketika hadir di tengah mereka. Menjadi minoritas bukanlah hal menyedihkan, justru ada penempaan diri yang alami dalam peristiwa sehari-hari.
Kehebohan Islamophobia yang digencarkan oleh pihak anti-Islam memiliki efek positif, terutama buat kaum intelektual muda seperti kedua remaja ini. Banyak orang menjadi tertarik pada ajaran Islam dan menghargai serta kagum terhadap orang Islam nan istiqomah menjalankan aturanNya.
Secarik cerita kebersamaan dengan Hanna dan Olga pun merupakan pelajaran istimewa buatku. Rasa ingin tahu yang dibalut dengan kelurusan hati dan niat tulus tentu dapat dapat menjadi motivasi dalam menyerap ilmu. Hanna dan Olga (yang bukan muslim) kini kian merasa senang berkutat dengan pengetahuan Islam, kenapa kita yang telah lama muslim malah bermalas-malasan untuk belajar?
Hanna dan Olga (yang baru tertarik pada islam saja) sangat antusias mengenakan hijab, membaca tentang bagaimana menutup aurat yang sesuai syari’at, tentang sholat, puasa, dan hal lainnya, kenapa banyak muslimah yang hanya ‘semangat’ nutup aurat kala ramadhan saja? Kenapa banyak muslimah yang malah mengidolakan penampilan umbar aurat?
Hanna berkirim email, “… Olga dan ibunya titip salam buatmu sekeluarga, Ry. Do’akan kami supaya bisa menjadi muslimah yang baik… Saya masih menghafal gerakan sholat saat ini… “ duh, saya jadi rindu padanya. Hari terakhir di Krakow, ia memelukku erat, kami berlinang air mata. “Aku belum bisa bersyahadat, karena belum tau cara sholat…” bisiknya, saya tak pernah memaksa, dear… Sementara pikiranku mengingat banyak saudaraku yang muslim—tapi mengabaikan sholat, oh Allah, hidayah memang kuasaMU!
“Dear Riry, namun yang terpenting… saya tidak jadi berangkat ke Indonesia dan Malaysia, saya mengundurkan diri sebagai misionaris. Saya rasa, malah ‘kami’ yang berbuat terror terhadap muslim…” percakapan Hanna yang paling kukagumi waktu itu.
Dalam ayat-Nya, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56).
Ibnu katsir mengatakan mengenai tafsir ayat ini, “Allah mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan hidayah, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya”.
Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin menerangkan, “Hidayah di sini maknanya adalah hidayah petunjuk dan taufik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mesti mengikuti hikmah-Nya.”
Semoga kita termasuk ke dalam kumpulan hamba Allah SWT yang senantiasa teguh mendekap hidayahNya, Allahumma’aamiin… Wallohu’alam.