6 Cara Menghadapi Anak yang Mulai Membangkang

Tags

Dalam masa pertumbuhan anak, pasti ada masa ketika mereka mulai membangkang dan membantah, serta tidak menuruti perkataan orangtua. Ketika dihadapkan pada masa tersebut, bagaimana sebaiknya orangtua menyikapi?
Jangan diamkan ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda membangkang. Jika dibiarkan, akan berdampak negatif bagi pertumbuhan karakter dan mentalnya. Berikut tips yang bisa Anda coba untuk menghadapi anak yang sering membangkang:
1.    Sikapi dengan lembut
Hindari cara keras karena justru akan membuat anak makin membangkang. Perilaku marah orang tua bisa ditiru dan dijadikan pola bagi anak untuk menyelesaikan masalahnya. Cara bijaksana yang bisa dilakukan adalah jangan mudah terpancing emosi oleh penolakan anak. Berikan penjelasan dengan lemah lembut dan tidak mudah mengumbar kemarahan.
2.    Selalu berikan pilihan
Jangan sekali-kali mendikte anak. Berikan instruksi dengan gaya mengajak. “Nak, Ini sudah jam berapa? Gimana kalau mandi dulu? Nanti keburu sore.” Intinya, ciptakan cara kreatif adalah membujuk anak.
3.    Menghargai perilaku positif
Pujilah dan tunjukkan betapa bangganya Anda jika anak melakukan perbuatan baik. Kalau memungkinkan, berikan hadiah atau setidaknya elusan dan kecupan sayang sehingga dia merasa dihargai.
4.    Komunikasi aktif
Sikap membangkang anak bisa direndam dengan selalu mengajaknya berkomunikasi aktif. Ajukan setiap peraturan dengan disertai penjelasan. Komunikasi semacam itu akan menyurutkan sikap membangkang anak karena ia paham akan konsekuensi bila ia tak melakukan peraturan itu.
5.    Konsisten terhadap aturan yang telah dibuat
Terapkan peraturan dengan jelas dan menetap, misalnya kalau sudah ditentukan tidur jam 8 malam, patuhi jadwal tersebut dari hari ke hari. Jelaskan apa dampak atau risikonya kalau tidur larut malam. Menerapkan aturan yang konsisten juga melatih anak agar tahu bahwa hidup tak bisa diatur semau-maunya sendiri.
6.    Introspeksi
Kalau anak tidak mau menurut orang tua, maka orangtua harus introspeksi diri mengapa ia sering membantah. Jangan-jangan karena kesalahan orang tua sendiri yang membuat anak tak mau menurut. Misalnya, karena cara menyuruh atau memberi perintah seperti mendikte, menghardik, atau membentak, jadinya si kecil malah memberontak.

Pada intinya, komunikasi antara orangtua dan anak serta saling mau mendengar adalah poin penting dalam mendidik dan mengajarkan anak. Pembangunan karakter dan mental yang kuat, pasti akan berbuah bagi kehidupan dan kesuksesan anak kelak.